Studi Kasus

 

Nama: Yusniar Zalsabila Putri Yusuf

NIM: 20200124024

        

Tugas Individu

Analisis Studi Kasus: Dampak Ambruknya Pondok Pesantren Al Khoziny terhadap Proses dan Hasil Belajar Santri

Pada akhir September 2025, terjadi peristiwa tragis di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Sebuah bangunan musala yang digunakan para santri untuk beribadah roboh saat sedang digunakan untuk salat Asar. Insiden ini menimbulkan banyak korban jiwa dan luka-luka, serta menghancurkan sebagian besar fasilitas belajar di pondok. Kejadian tersebut tidak hanya membawa duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menimbulkan dampak besar terhadap proses pembelajaran dan perkembangan para santri yang selamat.

·       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

  Faktor Internal (dari dalam diri peserta didik/ santri)

  1. Kondisi emosional : Banyak santri mengalami trauma dan rasa takut setelah kejadian. Hal ini dapat membuat mereka sulit fokus dan kehilangan semangat belajar.
  2. Motivasi belajar : Kejadian tragis sering kali menurunkan minat belajar karena suasana hati yang tidak stabil.
  3. Kesehatan fisik : Santri yang terluka atau mengalami kelelahan akibat evakuasi tentu membutuhkan waktu untuk pulih sebelum bisa belajar dengan optimal.
  4. Kematangan spiritual dan mental : Santri dengan daya juang dan keimanan kuat biasanya lebih cepat beradaptasi dan pulih dari kondisi traumatis.

  Faktor Eksternal (dari luar diri peserta didik/ santri)

  1. Lingkungan belajar : Gedung yang rusak membuat kegiatan belajar harus dihentikan atau dipindahkan ke tempat sementara.
  2. Dukungan sosial : Bantuan dari guru, pengasuh, teman sebaya, dan keluarga sangat menentukan proses pemulihan semangat belajar santri.
  3. Kebijakan lembaga dan pemerintah : Keputusan untuk pemindahan tempat sementara, bantuan fasilitas, serta pendampingan psikologis sangat membantu.
  4. Kondisi ekonomi keluarga : Sebagian keluarga mungkin terdampak biaya tambahan akibat bencana, yang bisa menghambat kelanjutan pendidikan anak

·       Hubungan antar Faktor

Kedua jenis faktor di atas saling berkaitan. Misalnya, trauma emosional (faktor internal) bisa diperburuk oleh kehilangan lingkungan belajar yang aman (faktor eksternal). Namun, dukungan sosial dan fasilitas belajar yang memadai dapat mempercepat pemulihan motivasi belajar santri. Dengan kata lain, keseimbangan antara kekuatan pribadi dan bantuan dari lingkungan menjadi kunci agar proses belajar bisa kembali berjalan normal.

·        Dampak terhadap Proses dan Hasil Belajar

  1. Kegiatan belajar mengajar sempat terhenti karena kerusakan bangunan.
  2. Banyak santri mengalami kesulitan konsentrasi akibat trauma.
  3. Hasil belajar menurun karena proses belajar tidak berjalan optimal.
  4. Hubungan sosial antar santri juga terganggu karena sebagian teman mereka menjadi korban.

·        Solusi dan Upaya Perbaikan

  1. Pendampingan Psikologis, Melalui kegiatan konseling, bimbingan rohani, atau pendekatan spiritual untuk membantu santri memulihkan diri dari trauma.
  2. Pemulihan Fasilitas Belajar, Pemerintah dan pengelola pesantren perlu segera membangun ruang belajar sementara yang aman.
  3. Penyesuaian Kegiatan Belajar, Guru perlu menyesuaikan metode dan tempo pembelajaran agar santri tidak terbebani.
  4. Dukungan Keluarga dan Masyarakat, Keterlibatan orang tua dan masyarakat sekitar penting untuk menciptakan rasa aman dan semangat baru bagi para santri.

·        Kaitan dengan Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik

Kejadian ini berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan santri. Dari sisi pertumbuhan, kondisi fisik bisa terganggu karena kelelahan, cedera, atau stres. Sementara dari sisi perkembangan, terutama aspek emosional dan sosial, para santri belajar menghadapi kesedihan, kehilangan, serta beradaptasi dengan situasi baru.
Meski berat, pengalaman ini juga dapat membentuk karakter dan ketahanan diri (resiliensi) yang kuat — bagian penting dari perkembangan kepribadian remaja.

 

Comments

Popular posts from this blog